Kenapa Dunia Kekurangan Perawat Lansia?
Krisis Global, Penyebab, dan Peluang untuk Tenaga Kerja Indonesia
Dunia sedang menghadapi fenomena besar yang disebut grey wave — gelombang populasi lanjut usia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Populasi dunia memang tumbuh, tapi laju pertumbuhan kelompok lansia jauh lebih cepat daripada usia muda. Hasilnya? Banyak negara kini kekurangan tenaga perawat lansia dan sedang mencari solusi cepat.
Bahkan, negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Australia, dan Kanada kini mengalami “darurat tenaga perawat.” Jumlah lansia melonjak, sementara jumlah tenaga kerja yang siap merawat mereka tak seimbang. Yuk kita bahas lebih dalam kenapa ini bisa terjadi — dan bagaimana peluang besar ini bisa dimanfaatkan oleh tenaga kerja Indonesia.
1. Dunia Menua: Fakta Populasi Lansia yang Tak Terbendung
Menurut laporan terbaru PBB dan WHO, jumlah orang berusia 60 tahun ke atas meningkat pesat. Pada tahun 2050, diperkirakan lebih dari 2 miliar orang di dunia akan menjadi lansia, dan jumlah orang berusia 80 tahun ke atas akan meningkat hampir tiga kali lipat.
Artinya, kebutuhan akan layanan kesehatan, perawatan jangka panjang, dan pendampingan lansia akan melonjak drastis.
Namun, pertumbuhan tenaga perawat tak mengikuti laju yang sama. Di banyak negara, jumlah perawat yang aktif justru menurun karena faktor usia, beban kerja, hingga minimnya regenerasi. Kombinasi inilah yang akhirnya memicu krisis tenaga perawat global.
2. Negara yang Paling Kekurangan Tenaga Perawat Lansia
Jepang: Negara Tertua di Dunia
Lebih dari 30% populasi Jepang kini berusia di atas 65 tahun, menjadikannya negara dengan proporsi lansia tertinggi di dunia. Pemerintah Jepang memperkirakan akan membutuhkan lebih dari 2 juta caregiver tambahan dalam beberapa dekade mendatang.
Untuk mengatasi hal ini, Jepang membuka program kerja sama dengan negara lain, termasuk Indonesia, melalui jalur Economic Partnership Agreement (EPA) dan Specified Skilled Worker (SSW).
Jerman: Kekurangan Perawat Hingga Ratusan Ribu
Di Eropa, Jerman menghadapi situasi serupa. Data terbaru menunjukkan bahwa Jerman kekurangan lebih dari 200.000 tenaga keperawatan, terutama di sektor perawatan lansia (elderly care).
Pemerintahnya kini aktif merekrut perawat dari Asia, termasuk Filipina dan Indonesia, serta meningkatkan pelatihan domestik. Namun, kendala bahasa dan adaptasi budaya masih menjadi tantangan besar.
Australia: Sistem Aged Care yang Tertekan
Australia juga tengah menghadapi krisis perawatan lansia. Banyak lansia yang sudah boleh pulang dari rumah sakit tapi terpaksa “tertahan” karena tidak ada tempat di fasilitas aged care.
Laporan Royal Commission into Aged Care bahkan menyebut bahwa Australia membutuhkan ratusan ribu pekerja tambahan hingga 2050 untuk menjaga kualitas layanan lansia tetap layak.
Kanada: Lonjakan Lansia dan Minimnya Tenaga
Kanada menghadapi tantangan serupa. Dengan populasi lansia yang mencapai hampir 25% dari total penduduk, negara ini kekurangan personal support workers dan long-term care staff di seluruh provinsi.
Beberapa pemerintah daerah bahkan menawarkan jalur migrasi cepat bagi pekerja asing di bidang perawatan lansia.
3. Kenapa Profesi Ini Semakin Langka dan Dicari?
Krisis perawat lansia bukan hanya akibat banyaknya orang tua, tapi karena serangkaian faktor lain:
- Tenaga perawat ikut menua: Banyak perawat yang mendekati masa pensiun, sementara tenaga muda kurang tertarik karena beban kerja tinggi.
- Burnout dan tekanan kerja: Pandemi COVID-19 memperparah kelelahan mental di sektor kesehatan.
- Upah belum sebanding: Di beberapa negara, profesi caregiver masih dianggap “pekerjaan rendah” padahal tanggung jawabnya besar.
- Butuh keterampilan khusus: Merawat lansia dengan demensia atau penyakit kronis memerlukan pelatihan tersendiri.
- Masalah demografi global: Jumlah penduduk usia produktif terus menurun di negara maju.
Hasilnya, profesi perawat lansia kini menjadi salah satu pekerjaan paling dicari di dunia.
4. Dampaknya Terasa di Mana-Mana
Akibat kekurangan tenaga perawat, banyak rumah sakit dan panti jompo kekurangan staf. Lansia yang seharusnya dirawat di fasilitas perawatan terpaksa tinggal lebih lama di rumah sakit.
Kualitas layanan pun menurun — satu perawat bisa mengurus 10–15 pasien dalam satu waktu. Ini tidak ideal, baik bagi perawat maupun pasien.
Selain itu, beban perawatan juga banyak berpindah ke keluarga, terutama anak-anak yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan merawat orang tua mereka.
5. Solusi Global yang Sedang Ditempuh
Untuk mengatasi krisis ini, beberapa langkah sedang diambil di berbagai negara:
- Meningkatkan rekrutmen internasional
Negara seperti Jepang, Jerman, dan Kanada membuka jalur kerja khusus untuk tenaga kesehatan asing, termasuk dari Indonesia. - Inovasi teknologi dan robotik
Jepang menggunakan robot perawat dan sistem AI untuk membantu pekerjaan fisik, tapi teknologi ini belum bisa menggantikan sentuhan manusia sepenuhnya. - Meningkatkan pelatihan dan gaji
Beberapa negara mulai memperbaiki kesejahteraan pekerja sektor perawatan untuk menarik lebih banyak tenaga muda.
6. Peluang Besar untuk Tenaga Kerja Indonesia
Nah, bagian ini menarik.
Indonesia punya potensi besar untuk berkontribusi di sektor ini. Pemerintah Indonesia sudah memiliki kerja sama resmi dengan Jepang melalui program EPA dan SSW, yang memungkinkan tenaga perawat dan caregiver Indonesia bekerja di Jepang setelah lulus pelatihan dan ujian bahasa.
Selain Jepang, negara seperti Jerman, Australia, dan Kanada juga mulai melirik tenaga kerja dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Jika kamu tertarik, berikut langkah realistis yang bisa kamu ambil:
- Ikuti pelatihan caregiver di lembaga bersertifikat.
- Kuasai bahasa negara tujuan (misalnya Bahasa Jepang atau Jerman).
- Dapatkan sertifikat kompetensi internasional seperti NC II atau Nursing Assistant Certificate.
- Pastikan melalui agen resmi dan terdaftar agar aman dan legal.
Selain peluang luar negeri, sektor homecare dalam negeri juga berkembang pesat. Banyak keluarga di kota besar kini mencari tenaga perawat lansia profesional — pasar domestik pun terbuka luas.
7. Tantangan yang Perlu Disiapkan
Bekerja di sektor perawatan lansia itu mulia, tapi juga menantang. Kamu perlu siap secara fisik dan mental, karena pekerjaan ini melibatkan empati, kesabaran, dan tanggung jawab besar.
Kamu juga perlu beradaptasi dengan budaya baru, terutama jika bekerja di luar negeri. Namun, dengan persiapan matang, karier ini bisa memberi stabilitas finansial dan kesempatan untuk berkembang di bidang kesehatan global.
8. Kesimpulan: Krisis yang Jadi Peluang
Kekurangan perawat lansia adalah tantangan besar bagi dunia, tapi juga peluang emas bagi tenaga kerja Indonesia. Saat negara-negara maju berlomba mencari solusi, kita punya keunggulan — SDM yang ramah, terlatih, dan punya semangat tinggi di sektor perawatan.
Jika dikelola dengan baik, sektor ini bisa menjadi ladang kerja baru sekaligus kontribusi nyata Indonesia dalam menjawab tantangan demografi global.
Dunia mungkin sedang menua, tapi peluangnya justru sedang tumbuh.





